Recent Blog Post

Archive for 01/12/15










  • Dalam wawancara yang dimuat di Majalah Trubus, Februari 2003, Bapak Sartono (petani cabai kathur) menjelaskan bahwa cabai ini disebut cabai kathur karena buahnya tumbuh menjulang menantang langit (ngathur).
    Ciri-ciri cabai kathur adalah warna cabai ini hijau waktu muda; masak, merah tua. Bila ditekan terasa keras karena jumlah bijinya sangat banyak. Kadar airnya rendah sehingga ia tahan simpan (12 hari setelah petik masih segar) dan tahan pengangkutan jarak jauh.
    Petani mulai memanen 60 hari setelah tanam dan berlangsung hingga 14 bulan, kalau perawatan intensif masa panen lebih lama lagi. Masa panen yang panjang sangat menguntungkan petani karena bisa menikmati harga rendah dan tinggi. Di tingkat konsumen harganya pernah mencapai Rp20.000,00 per kilogram disaat pasokan cabai rawit kosong
    Kathur dapat ditanam setiap saat. Akan tetapi, sebaiknya penanaman pada akhir musim penghujan dan awal musim kemarau agar tingkat keseragaman pertumbuhan tinggi. Penanaman pada musim kemarau tidak masalah sepanjang air tersedia. Kathur pun tahan perubahan cuaca yang tak menentu, misal pada musim kemarau tiba-tiba hujan.
    Kelebihan lainnya adalah tahan hama penyakit. Salah satunya Aphis gossypii yang menghisap cairan tanaman hingga layu dan mati. Pada percobaan saya serangan hama tersebut menyebabkan kematian 100% pada varietas hibrida bila tanpa penyemprotan pestisida. Kematian kathur hanya 10% karena lebih tahan hama penyakit, petani bisa menekan biaya produksi hingga dua pertiga bagian. Kalau pada cabai rawit hibrida petani rutin menyemprot pestisida 2 kali seminggu, kathur 10 hari sekali. Frekuensi pemupukan 1 kaliu sebulan, kalau hibrida 1 kali per minggu.

    Narasi Wawancara cabai kathur majalah trubus

  • - Copyright © Dorachan's Blog - Powered by Blogger - Designed by Kristina Dora Yunita -